Kerusuhan Ambon Hanya Gara-gara Pesan Singkat

By | September 13, 2011

Kerusuhan Ambon Hanya Gara-gara Pesan Singkat

Kerusuhan di Ambon yang belum lama terjadi ternyata penyebabnya adalah sebuah pesan singkat berantai yang bernada provokatif sehingga menyulut emosi beberapa kelompok masyarakat disana. Sungguh disayangkan, hanya karena disebabkan oleh isi pesan singkat yang belum diketahui secara pasti kebenarannya sudah bisa menyulut emosi warga sehingga menghancurkan banyak kendaraan dan fasilitas yang ada.

Akar Rumput Tak Terprovokasi, Ambon Mereda

VIVAnews - Kerusuhan pecah di sejumlah kawasan di Ambon, Maluku, mulai Minggu 11 September 2011 pagi. Sejumlah kelompok massa saling lempar batu, memblokir jalan, bahkan saling membacok. Letusan tembakan juga terdengar.

Dihubungi lewat telepon, pada Minggu siang, seorang warga Ambon yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa kerusuhan terkonsentrasi di tiga titik utama yakni, depan kampus PGSD Universitas Pattimura, Tugu Trikora, dan Waringin.

Akibat kondisi tersebut, pusat-pusat bisnis lumpuh. Sejumlah toko memilih tutup seketika rusuh pecah. Sejumlah warga juga terlihat mengungsi.

Rumor yang berkembang, kerusuhan dipicu kematian seorang tukang ojek asal Gunung Nona, Kecamatan Nusaniwe, pada Sabtu 10 September 2011 malam. Warga yang enggan disebut namanya itu mengatakan bahwa kasus kematian tukang ojek di Gunung Nona hanya pemantik dari sejumlah kasus sensitif di Ambon yang telah terakumulasi. “Ini rembetan masalah saja,” ujarnya.

Polisi membenarkan ada kematian tukang ojek. Pemicu kerusuhan diduga pesan singkat berantai yang menyebut kematian si tukang ojek bernama Darfin Saimen ini karena dibunuh.

Kepala Bidang Humas Polda Maluku, AKBP Johannes Huwae, membantah Darfin tewas dibunuh. Darfin meninggal karena kecelakaan lalu lintas setelah mengendalikan sepeda motor dengan kecepatan tinggi di Jalan Perumtel, Desa Keramat, Nusaniwe Ambon.

Juru Bicara Polri, Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam, mengatakan bahwa keluarga tak percaya Darfin tewas kecelakaan karena sepeda motornya tidak mengalami kerusakan parah. Namun, hasil autopsi menunjukkan Darmin mengalami kecelakaan murni. “Itu bisa dibuktikan dari hasil otopsi. Semua tidak ada tanda-tanda kekerasan,” katanya.

Simpang siur kematian warga Gunung Nona, Kecamatan Nusaniwe, itu rupanya menyulut emosi dua kelompok yang kerap bertikai. Kerusuhan pecah yang meluas ke sejumlah kawasan, termasuk jantung kota Ambon. “Ada dua kelompok lama. Ya kami tidak usah sebutkan,” kata Anton.

Sosiolog Universitas Indonesia yang juga berdarah Maluku, Tamrin Amal Tomagola, juga berpendapat kerusuhan sehari ini masih cara provokasi lama.  “Selalu dilakukan di sekitar Idul Fitri,” kata Tamrin saat dihubungi VIVAnews.com, Senin 12 September 2011.

Ini mirip dengan kerusuhan yang meletup tahun 1999 lalu. “Saat itu, dimulai penyebaran isu, dulu lewat telepon umum,” kata dia. Saat ini, tambah dia, kondisi sudah terkendali. “Ini hanya di Kota Ambon, itupun tidak seluruhnya.”

Tamrin menduga, yang jadi sasaran provokasi adalah kelompok muslim. Namun, itu tidak terjadi. “Akar rumput tidak terprovokasi. Ada pemuda muslim terjebak di wilayah Kristen diantar pulang. Begitupun sebaliknya. Mereka sadar yang dulu diadu domba.”

Ia mengharapkan, masyarakat tidak mudah terpancing isu provokatif dan saling melindungi. Polisi juga diminta membenahi diri, tidak berbasis di kantor tapi di komunitas. Polisi seharusnya juga menekankan pencegahan dini dengan  polisi komunitas dan penajaman intelijen poisi di lapangan. “Pendekatan kepolisian terlalu pendekatan TKP,” kata Tamrin.

Meski terlambat, polisi berhasil melacak asal pesan singkat atau SMS yang menyulut kerusuhan itu. “Nomor yang kirim SMS itu sudah terlacak,” kata Anton.

Tiga Orang Tewas

Namun, provokasi terlanjur menjadi kenyataan. Kerusuhan sehari itu membuat tiga orang meninggal dunia. “Satu orang (meninggal) di Rumah Sakit Alfatah dan dua orang di Rumah Sakit Umum,” kata Anton Bachrul Alam.

Selain korban meninggal, kata Anton, ada juga korban luka berat sebanyak 24 orang dan luka ringan sebanyak 65 orang. “Itu karena lemparan batu dan sebagainya,” kata dia.

Untuk menjaga keamanan di Ambon, kata Anton, polisi telah mengerahkan 200 personel Brimob dan 200 personel polisi dari Makasar. Mereka disebar di berbagai titik di pusat kota termasuk Tugu Trikora. Di mana bentrok antarwarga berada di simpang empat Tugu Trikora dan Waehaong.

Polisi telah mengamankan beberapa alat bukti  di antaranya batu yang digunakan warga untuk saling lempar dan senjata tajam. “Senjata api masih belum karena masih dalam proses pendataan,” kata Anton.

Sementara itu, jumlah kerugian kata Anton ada empat unit sepeda motor, dua mobil dan tiga rumah dibakar.

Menjelang sore, situasi mulai kondusif. Sore itu juga, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Kapolri Jenderal Timur Pradopo untuk menambah personel keamanan di Ambon. Presiden juga meminta Menkopolhukam bersama Kapolri, Panglima TNI, dan Gubernur Maluku, mengambil langkah agar kerusuhan Ambon tidak meluas.

Kepala Kepolisian Jenderal Timur Pradopo mengatakan telah menambah personel pasukan untuk mengantisipasi bentrok susulan di Ambon. Pasukan yang diterjunkan berasal dari Markas Besar Polri dan dari Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan.

Kapolri mengatakan pasukan telah ditambah 4 satuan setingkat kompi. “Masih dipersiapkan kalau ada dinamika,” kata mantan Kapolda Metrojaya ini.

Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) mengirim 2 kompi atau sekitar 200 personel pasukan dari satuan Brimob ke Ambon, Maluku. Pasukan tersebut diberangkatkan Minggu malam, 11 September 2011, dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sekitar pukul 22.30 Wita.

Dalam sambutannya, Brigjen Polisi Syahrul Mamma mengatakan, perintah pengiriman pasukan merupakan instruksi langsung dari Mabes Polri untuk membantu pengamanan di Ambon. Menurut informasi yang dihimpun VIVAnews.com, 200 personel Polri ini dipimpin langsung oleh Kepala Detasemen I AKBP Donyar Kusuma Sik. Detasemen tersebut dilengkapi 10 orang dari tim Gegana.

sumber : vivanews.com



Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 − = five