KISAH RASULULLAH SAAT SAKARATUL MAUT

In Artikel, Islami 978 views

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya.

Pagi itu, meski langit telah  mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara  terbata memberikan petuah,

“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan  cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur‘an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku,akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan  mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang, dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah  tiba.
“Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir usai  menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir  di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup.Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma  yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang  yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah  tidak mengizinkannya masuk,

“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata  Fatimah yang membalikkan badan dan menutup  pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang  ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,

“Siapakah itu  wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku  melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu  dengan pandangan yang menggetarkan.Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di  kenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah  yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,”  kata Rasulullah,

Fatimah  pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi  Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril  yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah  dan  penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan  Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar  menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah  lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?”  Tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku  pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
‘Kuharamkan surga bagi siapa  saja,kecuali umat  Muhammad telah berada didalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail  melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh  Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit  sakaratul maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam,  Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah  pada Malaikat pengantar wahyu itu.

” Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah  memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat niat maut ini,timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya  bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan  telinganya.
“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan  santuni orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar  bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di  wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai  kebiruan.

“Ummatii, ummatii,  ummatiii?” -  “Umatku, umatku, umatku” Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia  itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?

Allahumma sholli ‘ala Muhammad  wa baarik wa salim ‘alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

sumber : google.com

Related Search

Kisah Tauladan, Imam Sufyan ats-Tsauri dan Anak Tukang Riba
Kisah Tauladan, Imam Sufyan ats-Tsauri dan Anak Tukang Riba
Sufyan Ats-Tsauri bernama lengkap Sufyan bin Sa’id
Kisah Tauladan Urwah bin Zubair
Kisah Tauladan Urwah bin Zubair
Berikut ini adalah kisah tauladan dari Urwah
Dipisahkan Dengan Yang Salah
Dipisahkan Dengan Yang Salah
Air – wikipedia bahasa indonesia, ensiklopedia bebas,
Kisah Ibnu Ummi Maktum Sahabat Rasulullah Yang Buta
Kisah Ibnu Ummi Maktum Sahabat Rasulullah Yang Buta
Sahabat Rasulullah yang satu ini memang bukan

Top