Lewat Jejaring Sosial, Industri Musik dapat “Angin Segar”

In Adsense 356 views

Kincir.com

KOMPAS.com – Tampilannya ala media sosial, dengan bagian-bagian yang familiar seperti linimasa, pusat notifikasi, daftar teman, dan lain sebagainya. Tapi ada banyak artis, terutama musisi lokal, ikut menjadi penghuni di sini.  

Para “Idola” dan “fans” yang mengikuti mereka lewat kanal artis-artis itu saling berbagi konten. Ada foto, video, lagu, hingga curhatan dalam bentuk tertulis, baik dari penggemar ke musisi maupun sebaliknya.

Itulah Kincir.com, situs yang menyebut diri sebagai online fanclub pertama di Indonesia ini mencoba menjadi wadah baru dan menjembatani dua pihak dalam industri musik yang berhubungan erat namun terpisah jarak, yakni para musisi dan penggemar tadi.

Black October

Sejarah Kincir bisa dirunut hingga beberapa tahun ke belakang. Pada Oktober 2011, gara-gara kecurangan content provider nakal, para artis lokal, termasuk Giring Ganesha, vokalis band Nidji yang menjadi salah satu tokoh di belakang Kincir.com, ikut terkena dampak penghentian langganan Ring Back Tone (RBT).

Para musisi dan penyedia konten menyebut peristiwa tersebut dengan istilah yang kelam, “Black October”.

“Waktu itu, gara-gara Black October, keadaan industri musik sedang genting,” kata Giring mengenang, dalam percakapan dengan KompasTekno, minggu lalu. Sebagian musisi lokal memang mengandalkan pendapatan dari langganan RBT, karena maraknya pembajakan telah menyumbat jalur pemasukan lain.

Beruntung, Nidji masih bisa memperoleh penghasilan lewat aneka endorsement dan event. Artis-artis lain belum tentu bernasib sama baiknya. Kejadian ini tak urung membuat Giring memutar otak, mencari jalan alternatif untuk menghasilkan uang. Bukan untuk dirinya sendiri saja, melainkan juga para rekan sesama musisi.

Masih pada tahun 2011, Giring mengikuti seminar pemasaran. Di sana ia bertemu dengan Danny Oei Wirianto, pendiri forum online Kaskus. Usai acara, mereka bertemu dan mengobrol hingga lalu menjadi teman baik. Suatu saat kemudian, dalam sebuah diskusi, tercetuslah ide mendirikan situs online fanclub.

oik yusuf/ kompas.com
Dua pendiri Kincir.com, Giring Ganesha (kanan) dan Danny Oei Wirianto

“Nama kincir diusulkan oleh Danny. Harapannya kami bisa memberi angin segar bagi industri musik Indonesia,” kata Giring yang mengaku sudah menjadi anggota Kaskus sejak tahun 1998.

Selang beberapa lama kemudian, pada Maret 2013, Kincir.com resmi meluncur. Situs ini berada di bawah naungan PT Gajah Merah Terbang yang berkantor di bilangan Slipi, Jakarta Barat. Para pengelolanya memperoleh sokongan dana dari Merah Putih Incubator.

Giring lalu mengajak musisi-musisi lain agar turut meramaikan Kincir.com. Hingga kini ia mengaku telah berhasil menggandeng lebih dari 150 artis, sementara jumlah fans atau pengguna situs tersebut telah mencapai kisaran 160.000 member.

Lagu Asli

Fans adalah alasan utama di balik eksistensi Kincir.com yang mengabdikan diri sebagai jembatan online untuk menghubungkan para idola dengan penggemarnya.

Ibarat darah yang mengalir di nadi, Giring mengatakan bahwa fans memberi denyut kehidupan pada musisi. “Artis yang bisa survive itu adalah artis yang bisa memanfaatkan kehadiran fans dengan baik,” ujarnya.

Senada dengan Giring, Danny melihat adanya peluang yang bisa ditangkap dari basis fans musisi.

“KIta lihat bahwa Giring selalu dimintai foto bareng oleh fans, jadi mereka ini ingin in-touch dengan dia… Nah, ini bisa digunakan. Kalau pesan instan bisa jualan stiker, artis pasti juga bisa,” kata Danny.

Giring dan Danny memiliki cita-cita menjadikan Kincir.com sebagai platform online baru yang memayungi artis dan fans. Mereka berencana mendistribusikan musik digital original dari para musisi melalui situs tersebut, lewat kerjasama dengan toko musik seperti iTunes dan MelOn.

Lalu ada pula ide memasarkan merchandise artis melalui kemitraan dengan penyedia jasa e-commerce. Soal pembayaran bisa dilakukan lewat kerjasama dengan penyedia jasa perbankan, operator seluler, dan lain-lain, untuk mempermudah konsumen Indonesia yang rata-rata belum memiliki kartu kredit.

Kincir.com

Adapun fans mendapat manfaat berupa kedekatan dengan idolanya. Kanal artis di Kincir.com dikelola sendiri oleh musisi yang bersangkutan. Mereka juga didorong untuk aktif berinteraksi dengan penggemar, serta kerap mengunggah konten-konten yang tidak bisa ditemukan di media sosial lain, misalnya foto ketika gladi resik sebelum naik panggung. Tak lupa, lagu-lagu dari artis juga disalurkan ke fans.

Usaha-usaha ini akan dijalankan berdampingan dengan fan page para artis yang telah eksis di media sosial lain. “Jadi, kita bisa diibaratkan membuka etalase tambahan,” kata Giring.

Dengan demikian, diharapkan Kincir.com bisa memperluas akses terhadap musik orisinal sehingga secara tidak langsung turut berkontribusi mengurangi pembajakan lagu di Indonesia.

Persoalan kemudahan akses ini, menurut Danny adalah salah satu faktor penting dalam menyokong industri musik Tanah Air. “Mengapa bajakan bisa meluas? Karena aksesnya luas, CD MP3 ada di mana-mana, sementara toko yang menjual CD asli jarang ada,” terang dia.  

Galang penggemar

Ke depan, Giring dan Danny berangan-angan Kincir.com akan turut berperan sebagai platform fans online untuk bidang lain di luar musik, seperti misalnya olahraga.

Keragamnya latar belakang dan bidang yang diminati fans nantinya akan memunculkan peluang baru, seperti targeted ads yang bisa dibuat agar sesesuai mungkin dengan profil audience sasaran.

“Jadi kalau dikumpulkan seperti ini kita bisa lihat bahwa demografi fans antar artis itu beda-beda ternyata,” ujar Giring. Dia mencontohkan satu waktu ketika Kincir hendak mengadakan acara yang melibatkan dua artis berbeda.

Ketika para fans artis A dikirimi e-mail undangan, sebagian besar surel terkirim. Tapi lain hanya dengan artis B, di mana banyak undangan tidak sampai tujuan karena para penggemarnya mendaftarkan alamat e-mail fiktif.

Lalu ada pula musisi lain yang para fans-nya digambarkan Giring sebagai “cewek-cewek rapi, wangi, dan menenteng ponsel lebih dari satu.” Informasi seperti ini, menurut Giring, bisa dimanfaatkan oleh pengiklan agar kampanyenya lebih terarah saat dilancarkan melalui Kincir.com.

Kincir.com

Meski demikian, Danny mengatakan bahwa untuk saat ini  pihaknya ingin berkonsentrasi mengembangkan basis pengguna terlebih dahulu. “Karena kita ingin membangun ekosistem… Kalau sekarang sudah mulai jualan, pengguna akan teriak duluan,” jelasnya.

Dalam rangka memperluas cakupan pengguna, Kincir.com pun telah merilis aplikasi mobile untuk  Android sebagai platform smartphone terbesar di Indonesia. Versi untuk platform lain sedang dipertimbangkan.

Danny mengaku yakin Kincir.com bisa terus menggalang  para penggemar musisi dari seluruh Indonesia. Dia menargetkan jumlah pengguna sudah bertambah menjadi satu juta pada 2015 mendatang.

“Saya yakin tercapai. Misalnya dari pengalaman pribadi saja, waktu masih di Kaskus, tahun 2007 itu jumlah member cuma 150 ribu. Dalam waktu setahun kita bisa naikkan jadi 1,2 juta, tergantung marketing-nya saja,” pungkas Danny.




Related Search

Tags: #android #berita #gadget #Giring Ganesha #handphone #Indonesia #Itulah Kincir #KOMPAS #teknologi


Gadget Acer Ditargetkan Bisa “Saingi” PC
Gadget Acer Ditargetkan Bisa “Saingi” PC
oik yusuf/ kompas.com JAKARTA, KOMPAS.com – Tahun
Android Cyanogen OnePlus Tak Lagi Pakai "Invite"
Android Cyanogen OnePlus Tak Lagi Pakai "Invite"
CyanogenMod Smartphone OnePlus dari CyanogenMod KOMPAS.com – Cyanogen
Smartphone "Android-Windows", Keren tapi Ribet
Smartphone "Android-Windows", Keren tapi Ribet
Aditya Panji/KompasTekno Produk tablet berbasis Android dan
Acer Bawa Gelang Pintar ke Indonesia
Acer Bawa Gelang Pintar ke Indonesia
Acer Acer Liquid Leap. KOMPAS.com – Acer

Top