Permata-Permata Cornelia

In Parenting 351 views

Hari itu pagi yang cerah di kota tua Roma, beratus-ratus tahun lampau. Dalam pondok musim panas berselimut tanaman rambat di tengah taman yang indah, dua anak lelaki berdiri memandangi ibu mereka yang sedang berjalan-jalan dengan tamunya di antara bunga dan pepohonan.

“Pernahkah kau melihat perempuan secantik tamu ibu kita?” tanya anak lelaki yang lebih muda, sambil menggandeng tangan kakaknya yang berbadan tinggi. “Dia tampak seperti seorang ratu.”

“Namun dia belum serupawan Ibu,” kata sang kakak. “Memang benar, dia mengenakan gaun yang mewah; tapi wajahnya tidak berwibawa dan tidak ramah. Ibu kitalah yang tampak bagaikan ratu.”

“Betul, betul,” jawab adiknya. “Tak ada perempuan di Roma yang lebih mirip seorang ratu dibanding ibu kita tersayang.”

Tak lama kemudian, Cornelia, ibu mereka itu, menuruni jalan setapak untuk menyapa anak-anaknya. Dia mengenakan gaun putih polos yang sederhana. Kedua tangan dan kakinya dibiarkan telanjang tanpa sarung tangan atau alas kaki, sesuai adat masa itu; tak ada kilau cincin atau rantai kalung di pergelangan tangan dan lehernya. Mahkotanya hanyalah kepangan panjang rambut coklat lembut yang digulung di kepala. Senyuman penuh kasih memancar di wajah anggunnya sementara dia menatap kedua putranya yang sedang memandanginya dengan bangga.

“Anak-anak,” katanya, “Mari kuberitahu kalian sesuatu.”

Kedua anak itu membungkuk hormat, mengikuti sopan santun yang diajarkan pada setiap pemuda Roma, dan berkata, “Apa itu, Ibu?”

“Kalian akan menemani kami makan bersama hari ini, di taman ini, lalu sahabat kita akan memperlihatkan kotak berisi segala jenis permata indah yang selama ini telah sering kalian dengar namanya.”

Kakak-beradik itu mencuri pandang malu-malu ke arah tamu ibu mereka. Mungkinkah nyonya ini masih punya cincin-cincin lagi selain yang dia kenakan di jari-jemarinya? Mungkinkah dia masih punya permata-permata lagi selain yang berkilauan pada kalung-kalung yang menjuntai dari lehernya?

Ketika hidangan piknik serba sederhana telah disantap, dari dalam rumah seorang pelayan datang membawakan kotak perhiasan. Nyonya itu membukanya. Wah, betapa semua permata itu menyilaukan mata kedua anak lelaki yang terheran-heran. Ada untaian-untaian mutiara, seputih susu, sehalus satin; setumpuk rubi yang bercahaya, merah laksana batu bara menganga; juga safir yang sebiru langit di musim panas itu; serta berlian-berlian yang mengilat dan berpendar bagaikan sinar matahari.

Lama kedua kakak beradik mengagumi permata-permata itu.

“Duh!” bisik si bungsu, “Andai saja ibu kita bisa memiliki benda-benda seindah ini!”

Sayang akhirnya kotak itu ditutup dan dibawa pergi dengan hati-hati.

“Apa benar kata orang, Cornelia, bahwa kau sama sekali tak punya perhiasan permata?” tanya tamunya. “Apa benar kata orang, seperti yang kudengar dibisik-bisikkan, bahwa kau miskin?”

“Tidak, aku tidak miskin,” sahut Cornelia, dan sembari bicara dia merangkul kedua anak lelaki itu ke sisinya. “Sebab mereka inilah permata-permataku. Mereka jauh lebih berharga ketimbang semua permatamu tadi digabung jadi satu.”

Aku yakin kedua anak lelaki itu tak akan pernah melupakan nada bangga dan cinta kasih ibu mereka; dan setelah bertahun-tahun kemudian, ketika mereka berdua telah menjadi orang-orang besar di Roma, mereka sering teringat pada peristiwa di taman itu. Dan dunia masih suka mendengar kisah tentang permata-permata Cornelia.

(Sumber: “Cornelia’s Jewels” dalam Fifty Famous Stories Retold karya James Baldwin; materi bacaan Year 1 Ambleside Online, diterjemahkan oleh Ellen Kristi.)

Sumber : http://www.cmindonesia.com/1/post/2013/10/permata-permata-cornelia.html?

Related Search

Tags: #anak #coklat #James Baldwin #Sumber Cornelia Jewels


Parenting Ala Ali Bin Abi Thalib
“Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka

Top